Senin, 07 Maret 2011

DAGING dan TELUR AYAM Pemicu STROKE?

Pernahkah kita mengira bahwa ayam dan telur yang kita konsumsi ikut andil menciptakan serangan stroke, asam urat, ginjal dan beberapa penyakit lainnya yang sangat berbahaya? Bagi kebanyakan ibu rumah tangga, daging ayam dan telur merupakan konsumsi keseharian yang relatif murah dan mudah pengolahannya. Dan sebagai konsumsi yang banyak dibutuhkan masyarakat, mendorong banyak orang yang melirik usaha pengadaan daging ayam dan telur. Bahkan ketertarikan pada dunia ini tidak saja melibatkan modal kecil dan bersifat local, bahkan para pemodal besar dan dari asing pun ikut terjun dalam bisnis yang memang menggiurkan ini. Atas nama bisnis dan keuntungan, para pebisnis mulai memutar otak yang tergolong ‘jenius’ tapi merusak untuk mengejar produksi sebanyak mungkin dengan investasi dan biaya operasional semurah mungkin. Persaingan di pasar yang begitu ketat, menyebabkan banyak pengusaha penyedia daging ayam (peternak) dan telur, terus melakukan upaya-upaya yang tak jarang membahayakan lingkungan bahkan kesehatan hingga mengancam kehidupan manusia.


Problematika Peternak


Siapa yang tidak ingin untung besar dengan cepat dan biaya murah? Pertanyaan ini merupakan impian hampir seluruh pebisnis, termasuk para penyedia daging ayam dan telur. Demi hasrat tersebut, dan memang kebutuhan yang tinggi akan daging ayam dan telur, terutama broiler, membuat para peternak, selaku penyedia ayam yang belum dipotong dan telur melakukan berbagai cara. Para peternak ayam rela melakukan penyuntikan vaksin, antibiotik dan vitamin yang bertujuan membuat mempercepat proses pertumbuhan ayam baik untuk ayam potong maupun petelur. 

Sungguh amat disayangkan bahwa upaya yang sudah menjadi tren di dunia peternakan unggas (baca : ayam) ini sudah menjadi ‘tradisi yang dipaksakan’. Dimana ‘tradisi’ ini diduga memiliki agenda khusus terkait masalah ekonomi dan kesehatan masyarakat Indonesia. Ayam potong maupun petelur, selain mengalami vaksinasi, penyuntikan antibiotik dan pemberian vitamin, juga mendapat asupan pakan yang ditengarai mengandung bahan terkontaminasi babi. Saat ini, MBM (meat bone meal) yakni bahan pakan tepung tulang dan daging menjadi ‘pihak’ yang dianggap masyarakat sebagai penyumbang atas ‘buruk’nya kualitas daging dan telur ayam. 

Selain itu para peternak, sebagai akibat melakukan ‘tradisi’ tersebut, harus menghadapi berbagai masalah yakni, 
  1. Masalah di kandang. Para pemilik peternakan bekerja ekstra untuk menjaga ayam-ayam mereka dari kemungkinan serangan penyakit yang memang mudah menyerang seluruh ayam tersebut. Ini sebagai akibat, ayam yang diternakkan tersebut memiliki imunitas yang sangat lemah.
  2. Masalah lingkungan/ social. Aduan keberatan dari masyarakat terkait dengan limbah peternakan ayam ini sangat tinggi. Selain menimbulkan bau yang sangat menyengat, kotoran ayam ini juga menyebarkan berbagai macam penyakit bahkan mengkontaminasi air tanah di sekitarnya sehingga air tanah menjadi tidak sehat untuk digunakan bahkan menimbulkan bencana penyakit jika dikonsumsi. Bau menyengat di kandang ini mengindikasikan bahwa asupan pakan ternak di ayam tidak terpakai dengan optimal. Bau menyengat tersebut berasal dari protein yang terbuang sia-sia karena tubuh ayam tidak mampu  memanfaatkannya. Sehingga, selain bau menyengat tersebut, kotoran menyebabkan banyaknya belatung dan lalat.
Dua permasalahan tersebut, membuat daging ayam yang dihasilkan sangat buruk kualitasnya dan berbahaya jika harus dikonsumsi. Dimana beberapa ciri dari daging ayam yang berbahaya untuk dikonsumsi adalah munculnya lendir di berbagai sudut dan celah daging. Lendir inilah yang menunjukkan bahwa daging ayam tersebut menyimpan toxin. Akibat adanya lendir-lendir yang menyimpan toxin tersebut, maka daging ayam memiliki bau anyir/ amis. 

Pada April 2007, sebagai penggiat masalah organic, Faishal Ishaq mengadakan penelitian terhadap ‘tradisi’ para peternak tersebut di atas. Faishal melakukan penelitian tersebut dengan membagi ayam ke dalam 3 kelompok eksperimen. Dimana masing-masing kelompok eksperimen dalam jumlah ayam pedaging dan petelur tertentu. 

Dalam kegiatan penelitian tersebut, kelompok pertama diterapkan pemeliharaan ternak dengan metode yang berlaku secara umum saat itu. Yakni penggunakan pakan ternak pabrikan, vaksin sintesis, pemberian vitamin, dan penyuntikan antibiotik. Kelompok kedua, menggunakan pola pertama, namun dikombinasikan dengan herbal (FIOT). Sedang kelompok ketiga, diterapkan pola herbal (FIOT) sebagai andalannya.

Dari hasil penelitian eksperimental ini, Faishal menyimpulkan bahwa terdapat masalah besar dalam industri daging dan telur ayam ini. Sebab masalah sudah ditanam bahkan sejak ayam masih berupa telur atau bibit. Sehingga dari kondisi daging dan telur semacam inilah muncul berbagai penyakit yang sangat membahayakan dan mengancam kesehatan manusia. Diantara penyakit yang terindikasi dipicu konsumsi daging dan telur yang tercemar adalah alergi, stroke, rematik, asam urat, ginjal bahkan juga hipertensi. Inilah masalah yang harus dibenahi terutama ditingkat peternakan. Sebab dari sanalah pasokan daging dan telur di masyarakat berasal.

Solusi Integral

Untuk membuat peternakan yang sehat sesungguhnya tidak membutuhkan investasi yang mahal. Sebab yang diganti atau diubah hanyalah ‘tradisi’ memberikan pakan pabrikan yang diduga terindikasi tercemar bahan-bahan kimia sintetis dan juga babi kepada pakan ternak herbal dan nutrisi yang baik. Penafikan terhadap penggunaan vaksin, pemberian vitamin dan penyuntikan anti biotic. 

Peralihan total dengan penggunaan herbal dan pakan ternak yang bernutrisi baik merupakan solusi yang tidak saja positif bagi peternak dan hewan ternak saja, namun konsumen sangat diuntungkan. Lantaran daging dan telur yang beredar di pasaran merupakan daging dan telur yang tidak saja layak dikonsumsi namun juga menyehatkan. Solusi lain yang perlu dipertimbangkan para peternak adalah penggunaan jamu pada hewan ternak. Selain mudah didapatkan di kalangan masyarakat, peternak juga tidak harus bergantung pada perusahaan jamu tertentu. 

Sebenarnya, penggunaan MBM (Meat Bone Meal) ini sangat merugikan umat Islam dan Indonesia. Selain masih diproduksi negara-negara yang masih mengkonsumsi babi dalam jumlah besar, pakan pabrikan ini juga dikuasai perusahaan-perusahaan besar dari negara-negara tersebut yang justru merupakan pesaing para produsen pakan ternak Indonesia. Perusahaan-perusahaan ini menguasai seluruh lini di sector peternakan ini dari mulai pengadaan bibit hingga pakannya. Sehingga patut diduga negara-negara tersebut mempunyai kepentingan terselubung dibalik penggunaan MBM dan ‘tradisi’ berbahaya tersebut. 

Para perusahaan besar tersebut juga diduga berupaya dengan sekuat tenaga untuk mencemari pakan ternak di hampir seluruh peternakan di Indonesia. Akibatnya, Indonesia tidak mampu melakukan ekspor daging ayam dan telur lantaran tercemar olah bahan-bahan sintesis yang berbahaya. Namun sekiranya Indonesia tetap melakukan upaya ekspor, maka akan terganjal persyaratan kesehatan daging dan telur yang sangat ketat dan rumit di negara-negara industri. 

Jadi sesungguhnya, MBM yang berbahan baku dari kulit, tulang, daging dan darah ini sungguh merupakan ancaman yang mematikan kesehatan, lantaran masih tercampuri babi sebagai salah satu bahan bakunya.

Dampak Negatif pada Kesehatan & Kejiwaan

Perilaku peternak yang hanya mengejar omset dan laba tanpa menghiraukan apa dampak negatif pada konsumen sungguh mencemaskan. Betapa tidak, daging dan telur ayam yang mereka hasilkan menyulut berbagai penyakit diantaranya alergi, asam urat, darah tinggi, ginjal bahkan dalam tahap yang panjang, konsumen dapat terserang stroke. 

Belum lagi masalah ekonomi secara nasional. Sudah menjadi rahasia publik, bahwa Indonesia tidak mampu melakukan ekspor daging dan telur ayam, padahal memiliki potensi yang luar biasa. Pasalnya, daging dan telur tersebut jauh dari standar konsumsi sehat yang ditetapkan di negara importir. Karena daging dan telur yang ‘berbahaya’ tersebut harus tetap ‘menjadi uang’ akhirnya produksi yang besar tersebut dilepas ke pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah. Sungguh mengenaskan nasib bangsa yang memiliki sumber daya nabati dan hewani yang besar ini. 

Sementara dugaan, kondisi terpuruknya kualitas daging dan telur ayam di negeri memang sengaja diciptakan. Tujuannya jelas, selain untuk mengurangi pesaing dalam pasar Internasional, sekaligus merugikan ekonomi bangsa Indonesia. Selain itu, penggunaan MBM sebagai pakan ternak dengan salah satu babi menjadi unsur bahan bakunya memberikan dampak sangat buruk tidak saja bagi kesehatan. Masalah psikologi yang muncul sebagai akibat dari konsumsi daging dan telur yang terkontaminasi daging babi ini sangat mencemaskan umat Islam. 

Setidaknya ada tiga pengaruh kejiwaan yang sangat buruk bakal menyerang manusia yakni,
  1. Babi memiliki sifat kotor atau jorok, maka orang yang mengkonsumsi babi cenderung memiliki pola hidup yang kotor dan jorok.
  2. Babi memiliki sifat pembangkang. Bagi masyarakat pengkonsumsi babi atau konsumsi yang terkontaminasi babi, hampir rata-rata memiliki karakter pembangkang. Padahal secara kultur kejiwaan, manusia adalah makhluk yang taat dan tidak mudah menolak perintah.
  3. Babi memiliki sifat sebagai penganut seks bebas, dimana beberapa jantan bekerja sama untuk mengawini satu betina, dimana mereka bisa melakukannya bersama-sama. Hal ini hanya terjadi pada babi saja, dan tidak pernah didapati pada kebiasaan kawin hewan lain. Ini sungguh merupakan sifat rendah kebinatangan sehingga melenyapkan harga diri. Bagi masyarakat yang biasa mengkonsumsi atau makan makanan yang tercemari babi, maka akan terlihat dari perilakunya yang tidak memiliki harga diri dan berperilaku seksualitas seperti babi. Termasuk para pasutri yang mereka mensahkan ‘selingkuh’ dan zina dalam kehidupan rumah tangga mereka.

    Di atas 30 tahun silam, sebelum produk keseharian tercemari babi, kita mendapati umumnya keluarga muslim yang tingkat pengetahuan keislaman yang rendah saja merasa malu jika mendapati anak mereka kumpul dengan lain jenis. Meski tidak sampai melakukan hubungan badan. Pacaran pada saat itu merupakan perilaku yang sangat tabu. 

    Namun hal sebaliknya terjadi pada masa sekarang, dimana beberapa pemuka agama justru tidak risih anak mereka bergaul dengan lawan jenisnya. Malahan mereka sepertinya bangga dan terkesan memberikan dukungan atas perilaku putra putrinya tersebut. Kuat dugaan bahwa kondisi ini lantaran banyak keluarga muslim yang mengkonsumsi babi tanpa kesadaran mereka. 

    Masalah ini tentu saja sangat mencemaskan, sebab konsumsi terhadap makanan yang sudah tercemari babi membawa bencana bagi masyarakat muslim di Indonesia. Jenis makanan yang terkontaminasi bahan berbahaya dan haram semacam babi, dalam Islam disebut ‘jalalah’. Islam sangat keras dalam hal ‘jalalah’ ini sehingga memberikan aturan tersendiri untuk tiap binatang yakni dengan mengkarantina hewan ternak terkontaminasi tersebut. 

    Dimana pola karantina (pembersihan) yang diterapkan atau diarahkan Rasulullah pada hewan ternak ini berbeda-beda. Untuk hewan onta, kambing dan sapi, Islam melarang konsumsi terhadap daging dan susunya, adapun ayam adalah daging dan telurnya. Untuk onta dan sapi dibutuhkan waktu sekitar 40 hari masa karantina. Sementara kambing adalah 7 hari masa karantina, sedang ayam adalah 3 hari masa karantina. Dengan catatan pada masa karantina tersebut, pakan yang diberikan ke hewan ternak harus memenuhi kandungan halal dan bernutrisi baik. Namun dalam aturan Islam, hal ini termasuk keringanan (rukhshoh), sehingga bukan harus dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang tidak terbatas. 

    Di sinilah pentingnya umat Islam memiliki sebuah institusi tersendiri yang bekerja secara seksama dan total mengawasi kualitas konsumsi mereka. Baik dari perspektif kehalalan maupun kethoyibahannya. Sehingga nantinya tidak harus melakukan berbagai hal yang cukup rumit di atas. Rukhshoh (keringanan) meski diperbolehkan namun tetap saja mengganggu.

    Perbaiki Gaya dan Pola Hidup

    Sebenarnya dari seluruh penyakit yang muncul menyerang manusia, faktor gaya dan pola hidup menjadi penentunya. Sebagai contoh, seseorang yang senantiasa mengkonsumsi makanan yang haram, beracun dan merusak bisa dipastikan mudah terserang penyakit. Sehingga banyak ditemukan kasus orang yang terserang stroke di usia muda. Namun untuk mereka yang rajin melakukan berbagai hal yang menyehatkan badan, seperti olah raga, sauna, aerobik maka cenderung memiliki masa lebih lama untuk terserang berbagai penyakit. Namun orang yang mengkonsumsi herbal cenderung sehat dan nyaris tidak ditemukan kasus mereka terserang penyakit berat. 

    Idealnya memang selain mengkonsumsi herbal dan olah raga teratur, jika ingin lebih bugar, seseorang juga hendaknya melakukan pola penanganan kesehatan yang dicontohkan Nabi saw seperti bekam dan ruqyah. Insya Allah jika ini dilakukan, manusia akan menjadi pribadi yang berjiwa dan berfisik prima. 

    Dari penjelasan di atas, maka konsumsi daging dan telur ayam dewasa ini sangat membahayakan tubuh dan kesehatan manusia. Karena tidak saja daging dan telur saja yang masuk ke dalam tubuh, namun unsur-unsur kimiawi seperti antibiotik, vitamin, vaksinasi dan pakan ternak yang terkontaminasi babi akan masuk dalam tubuh dan darah kita. Akibatnya sudah bisa diprediksi, bahwa dalam masa tertentu kita akan terkena sakit bahkan hingga stroke. Jadi masih ingin sembrono konsumsi daging ayam dan telur?


    Adi wicaksono, dari berbagai sumber

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar